Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang
laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah
aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu
mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri].
Al-Hafizh
Ibnu Hajar al-‘Asqâlani rahimahullah berkata, “Adapun hakikat marah
tidaklah dilarang karena merupakan perkara tabi’at yang tidak bisa
hilang dari perilaku kebiasaan manusia.”[Fat-hul Bâri, X/520]
Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, "Apabila seorang dari kalian
marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk; apabila amarah telah
pergi darinya, (maka itu baik baginya) dan jika belum, hendaklah ia
berbaring". [Shahîh. HR Ahmad (V/152), Abu Dawud (no. 4782), dan Ibnu
Hibban (no. 5688) dari Sahabat Abu Dzarr Radhiyallahu anhu]
Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, "Apabila seorang dari
kalian marah, hendaklah ia diam". [Shahîh. HR Ahmad (I/239, 283, 365),
al-Bukhâri dalam al-Adabul Mufrad (no. 245, 1320), al-Bazzar (no. 152-
Kasyful Astâr) dari Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma. Hadits ini
dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jâmi’ish-Shaghîr (no.
693) dan Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 1375)]
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Orang yang kuat itu bukanlah
yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat
mengendalikan dirinya ketika marah". [Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 6114)
dan Muslim (no. 2609) dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]
Imam
Ibnu Baththal rahimahullah mengatakan bahwa melawan hawa nafsu lebih
berat daripada melawan musuh. [Lihat Fat-hul-Bâri (X/518)]
Mari
kita renungi firman Allah SWT berikut, "…Dan apabila mereka marah
segera memberi maaf". [asy-Syûrâ/42 : 37]. Juga dengan firman-Nya
Ta’ala, "…Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan
(kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat
kebaikan". [Ali ‘Imrân/3 : 134].
Akhirul
kalam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada
seorang sahabatnya, "Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga".
[Shahîh. HR ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath (no. 2374) dari
Sahabat Abu Darda Radhiyallahu anhu. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni
dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 7374) dan Shahîh at-Targhîb
wat-Tarhîb (no. 2749)]
Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, "Barangsiapa menahan
amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah akan
memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya
untuk memilih bidadari yang ia sukai". [Hasan. HR Ahmad (III/440), Abu
Dawud (no. 4777), at-Tirmidzi (no. 2021), dan Ibnu Majah (no. 4286) dari
Sahabat Mu’adz bin Anas al-Juhani Radhiyallahu anhu]
Dari
penjelasan-penjelasan di atas, mudah-mudahan kita dimampukan Allah
untuk meredam amarah. Kecuali amarah yang diperbolehkan oleh Allah SWT
dan RasulNya.

0 komentar:
Post a Comment